JURNAL PERCOBAAN 3 PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ASETIL SALISILAT (ASPIRIN)
JURNAL
PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK II
DISUSUN OLEH :
Mashita (A1C118083)
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL , M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
I. Judul : Pembuatan Asam Asetil Salisilat
II. Hari/Tanggal : Kamis, 22 Oktober 2020
III. Tujuan :
Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu:
1. Dapat memahami cara pembuatan asam asetil salisilat dari bahan baku asam
salisilat dan asam asetat anhidrat
2. Dapat mengetahui dan memahami jenis reaksi pembuatan asam asetil salisilat
IV.
Landasan Teori
Sejarah
Penemuan Aspirin
Lebih dari
2500 tahun silam, kurang lebih 500 SM, ahli-ahli obat-obatan Cina menggunakan
kulit pohon (willow bark), yang merupakan cikal bakal aspirin, sebagai obat
untuk mengobati penyakit yang ringan. Sepraktikanr 400 SM, Hipokrates seorang
Yunani yang sering diakui sebagai bapak obat-obatan, menyarankan bahwa
mengunyah kulit pohon dapat mengurangi demam dan rasa sakit. Lima ratus tahun
sesudah Hipokrates, Dioscrorides, seorang dokter Yunani, menggunakan kulit
pohon untuk mengurangi inflammation pada pasiennya.Hal-hal di
atas menunjukkan penggunaan kulit pohon sebagai cikal bakal dari aspirin. Pada
pertengahan abad ke-18, Reveren Edward Stone dari Oxford mulai melakukan
eksperimen dengan berbagai cara untuk mengurangi demam. Stone menghancurkan
satu pound kulit pohon yang dikeringkan dan memberikannya kepada 50 orang yang
demam selama beberapa tahun. Dia mencoba mencampurkan bubuk kulit pohon
tersebut dengan teh, air dan bahkan bir.Dengan beberapa pengecualian, demam
yang diderita pun hilang. Mungkin ini merupakan bukti nyata tetapi Stone tidak
mengetahui bahwa ia sebenarnya melanjutkan pekerjaan ribuan tahun yang lalu.
Pada tahun 1763 The Royal Society of London mempublikasikan
kesuksesan Stone dalam menemukan kemampuan kulit pohon willow untuk
menurunkan demam. Masih memakan waktu beberapa tahun untuk dapat menjadikan
kulit pohon willow menjadi obat (Schror K, 2009).
Aspirin
juga disebut asam asetil salisilat atau Acetyl salicyl acid yang
merupakan kristal jarum berwarna bening yang dapat diperoleh dengan cara
acetylasi senyawa phenol (dalam bentuk asam salisilat) menggunakan acetate
anhidrat dengan bantuan sedikit katalis asam sulfat pekat. Pada
pembuatan aspirin, asam salisilat berfungsi sebagai alkohol dan reaksinya
berlangsung pada gugus hidroksi. Gugus hidroksi dari asam salisilat akan
bereaksi dengan asetil dari asetat anhidrat. Reaksi yang terjadi adalah reaksi
esterifikasi (Fessenden,1987).
Sifat
Kimia Asam Salisilat
Sifat
kimia asam salisilat yaitu sebagai berikut :
1. Asam
salisilat memiliki sifat tidak cepat menguap.
2. Tidak
mudah terbakar.
3. Asam
salisilat berbentuk kristal berwarna merah muda terang hingga kecokelatan.
4. Mudah
larut dalam air dingin tetapi dapat melarutkan dalam keadaan panas.
5. Asam
salisat dapat menyublim tetapi dapat terdekomposisi dengan mudah menjadi karbon
dioksida dan phenol bila dipanaskan secara cepat pada suhu
sekitar 200oC (Austin, 1984).
Pembuatan
Asam Salisilat
Proses
pembuatan asam salisilat dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu:
a. Proses
Wacker. Pada proses Wacker sodium phenolate kering direaksikan dengan karbon
dioksida menggunakan phenol berlebih sebagai pelarut kemudian disuling dengan
xilene dan menggunakan azeotroping agent untuk mengurangi air.
Proses Wacker bekerja pada temperatur 140 oC dan tekanan CO2 pada
tekanan atmosphere. Waktu reaksi dari proses ini sekitar 15 jam
untuk menghasilkan sodium salisilat.
b. Proses
Wolthuis. Wolthuis mereaksikan karbon dioksida dengan potassium phenolate
dengan menggunakan halogenasi benzene seperti khlorobenzene sebagai pelarutnya.
Awalnya pada proses ini anhydrous potassium phenolate diperoleh dengan
mendestilasi air seluruhnya menggunakan sebagian khlorobenzene. Kondisi reaksi
pada 150 oC dan karbon dioksida pada tekanan 45-120 pound
per square inch. Garam potassium phenolate akan menghasilkan yield yang
tinggi dari asam salisilat dan sedikit garam sodium.
c. Proses Kolbe-schmitt. Pada proses ini sodium penolate atau sodium phenate diperoleh dengan mereaksikan phenol dengan sodium hidroksida. Sodium phenolate kemudian direaksikan dengan karbon dioksida pada temperatur 180 oC dan menghasilkan sodium salisilat. Sodium salisilat kemudian direaksikan dengan H2SO4 dan air sehingga dihasilkan Asam salisilat dan Na2SO4sebagai produk samping (Kirk, 1967).
V. Alat
dan Bahan
5.1 Alat
a) Erlenmeyer 100ml
b) Batang pengaduk
c) Gelas kimia 500ml
d) Pipet tetes
e) Corong Buchner
f) Plat TLC
5.2 Bahan
a) Asam Salisilat kering 2,5 gram
b) Anhidrida asetat 4 ml
c) Asam sulfat pekat 2 tetes
d) Etanol-air 50%
e) FeCl3
VI. Prosedur Kerja
a) Dalam labu Erlenmeyer 100ml, masukkan 2,5 gram asam salisilat kering, 4 ml
anhidrida asam asetat dan 2 tetes H2SO4 pekat.
b) Kocok campuran sambil dipanaskan di penangas air pada suhu 50-60oC selama
kurang lebih 15 menit.
c) Tambahkan 50ml air ke dalamnya secara hati-hati dan dinginkan campuran dalam
ice bath. Saring kristal yang terbentuk dengan pompa isap dan cuci dengan air
es/air dingin.
d) Rekristalisasi: masukkan produk aspirin yang terbentuk dalam Erlenmeyer,
tambahkan lebih kurang 5ml ettanol-air 50% dan panaskan Erlenmeyer di atas hot
plate sampai sama kristal melarut.
e) Jika tidak semua kristal melarut, tambahkan sedikit etanol-air 50% dan
tambahkan terus setetes demui setetes sampai semua kristal tepat larut.
f) Jika tetap masih ada residu, saring larutan dalam keadaan panas menggunakan
kertas saring lipat.
g) Dinginkan filtrate, bila mulai terbentuk kristal masukkan Erlenmeyer ke
dalam ice bath selama 15 menit.
h) Saring kristal yang terbentuk menggunakan pompa isap, cuci dengan air dingin
dan biarkan kristal mengering.
i) Timbang produk yang telah kering, hitunglah % hasilnnya dan perlihatan
kepada dosen pembimbing.
Tentukan kemurnniannya dengan TLC
a) Larutkan sedikit produk aspirin yang dihasilkan pada langkah (h)dihasilkan
pada langkah (h) dengan menggunakan etanol-air 50%.
b) Pada plat TLC yang telah disiapkan, totolkan produk aspirin yang telah
dilarutkan tersebut pada garis batas (sebelah kanan) dan totolkan standar asam
salisilat yang telah disediakan (sebelah kirir).
c) Tuangkan 5ml eluen (alkohol 95%) ke dalam bekas glass 100ml, letakkan plat
TLC tersebut (dalam posisi berdiri) ke dalamnya dan tutup dengan alumunium
foil.
d) Hentikan proses elusi bila jarak eluen mencapai batas garis atas ujung plat
TLC.
e) Keringkan plat TLC tersebut dan perlihatkan kepada dosen pembimbing dan
identifikasi dengan menggunakan larutan FeCl3.
f) Gambar dengan menggunakan pensil untuk spot/nada yang didapat dan tentukan
harga Rf-nya.
Video Terkait
:
Pertanyaan:
1. Mengapa pada prosee pembuatan aspirin pada saat dipanaskan harus sambil di
aduk?
2. Kenapa dalam pembuatan aspirin dilakukan tahapan esterifikasi?
3. Mengapa dalam proses pembuatan aspirin kita perlu menambahkan H2SO4 pekat?

Saya Lutfi Praidha Amyarsita dengan NIM A1C118015 akan menjawab pertanyaan 3 .Asm sulfat oekat disini digunakan sebagai katalis saat asam salisilat dengan anhidrida asam di reaksikan. Dimana reaksi yang terjadi adalah reaksi esterifikasi.
BalasHapusbaik lah saya Palma L Lubis dengan Nim A1C118014 akan mencoba menjawab permasalahan no 1 Proses pembuatan aspirin dengan diiaduk yaitu untuk merpercepat reaksi aspirin
BalasHapussaya susilawati (091) akan menjawab permasalahn no 2. karena Suatu ester dapat dibentuk dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dan suatu alkohol melalui reaksi esterifikasi.. Ester asam karboksilat adalah suatu senyawa yang mengandung gugus -CO2R dengan R dapat berbentuk alkil maupun aril.
BalasHapus