JURNAL PERCOBAAN 6 SKRINNING FITOKIMIA SENYAWA BAHAN ALAM

 

JURNAL PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK II

                  





DISUSUN OLEH :

Mashita (A1C118083)

 

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Drs. SYAMSURIZAL , M.Si

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020



I. Judul  : Skrinning Fitokimia Senyawa Bahan Alam
II. Hari/Tanggal : Jumat, 20 November 2020
III. Tujuan  : Adapun tujuan dari percobaan ini adalah
1. Dapat mengenal dan memahami teknik-teknik skrinning fitokimia bahan alam
2. Dapat mengetahui jenis-jenis pereaksi yang digunakan dalam skrinning fitokimia bahan kimia.
3. Dapat melakukan skrinning fitokimia bahan alam dari suatu simplisia tumbuhan.

IV.  Landasan Teori
Tumbuhan memiliki kemampuan untuk menghasilkan suatu senyawa yang istimewa memalui kemampuannya dalam metabolism. Senyawa-senyawa yang dapat dihasilkan oleh tumbuhan dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Senyawa dari metabolism primer
Senyawa yang termasuk kelompok ini adalah senyawa-senyawa organic yang dapat digunakan untuk metabolism tumbuhan tersebut. Contohnya karbohidrat, lipid, protein, dan asam amino.
2. Senyawa dari metabolism sekunder
Senyawa yang termasuk kelompok senyawa ini adalah senyawa organic hasil sampingan dari metabolism. Senyawa-senyawa golongan ini biasanya memiliki banyhak manfaat untuk pengobatan. Contohnya seperti alkaloid, steroid, flavonoid, terpenoid, fenolik, kumarin, kuinon, tinnin, lignin, dan glikosida.
Senyawa-senyawa organic yang dihasilkan melalui metabolism sekunder ini sering disebut kimia bahan alam (Tim Kimia Organik, 2020).

Skrinning fitokimia dilakukan sebagai pemeriksaan kimia pendahuluan dari simplisia sebelum dilakukan tahap isolasi lebih lanjut. Pemeriksaan terhadap kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan tergantung pada sensitivitas dari prosedur analisis dan banyaknya kandungan senyawa kimia yang diidentifikasi. Metode yang dilakukan untuk melakukan skrinning fitokimia harus memenuhi beberapa syarat antara lain seperti sederhana, cepat, dapat dilakukan dengan peralatan yang minimal, selektif terhadap golongan senyawa yang dipelajari, semi kualitatif dan dapat memberikan keterangan tambahan ada atau tidaknya senyawa tertentu dari golongan senyawa yang dipelajari. Uji fitokimia yang dapat dilakukan adalah uji kualitatif secara kromatografi lapis tipis (KLT) dan secara uji kualitatif secara kimiawi (Marliana, 2005).

Menurut Fessenden (1981), ada metode yang dipakai untuk melakukan skrinning fitokimia harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:

1. Sederhana

2. Cepat

3. Dapat dilakukan dengan peralatan minimal

4. Selektif terhadap golongan senyawa yang dipelajari

5. Bersifat semikuantitatif yaitu memiliki batas kepekaan untuksenyawa yang dipelajari

6. Dapat memberikan keterangan tambahan ada atau tidak adanya senyawa dari golongan yang dipelajari

Skirining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatu penelitian fitokimia yang bertujuan memberi gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang diteliti. Metode skrining fitokimia yang dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna (Eva.S.S, 2014).

Skrining fitokimia dilakukan dengan metode uji tabung menggunakan pereaksi-pereaksi yang sesuai untuk golongan senyawa yang akan di uji yaitu alkaloid, polifenol, tanin, flavonoid dan saponin. Kromatografi lapis tipis merupakan uji untuk menegaskan hasil uji tabung. Pemeriksaan senyawa kimia dilakukan terhadap senyawa polifenol, flavonoid dan saponin yang telah diketahui memberikan hasil positif dalam larutan uji pada uji tabung (Eka.K & Nanik.S. 2011).

V. Alat dan Bahan
a. Alat
- Tabung reaksi 20 bh
- Erlenmeyer 250 ml
- Plat tetes
- Gelas kimia 200ml
- Pipet tetes
- Lumping
- Corong gelas
- Gelas ukur
   
b. Bahan
- Pereaksi Dragendorf
- Kloroform
- NaOH padatan
- Pereaksi Meyer
- Etanol
- Brusin
- Pereaksi Wagner
- Methanol
- Iodine
- Shinoda
- Heksan
- KI
- Pandan
- Kayu manis
- Belimbing wuluh
- Sereh
- Jeruk purut

VI. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
a)   Pemeriksaan Alkaloida
1.    Dihaluskan simplisia tumbuhan sebanyak 2-4 gr pada lumpang dengan menambahkan sedikit kloroform dan pasir bersih (silica).
2.    Bahan tumbuhan yang sudah halus dibasahi dengan 10ml kloroform, lalu gerus lagi dan ditambahkan 10 ml kloroform amoniak 1/20 N dan gerus lagi.
3.    Saring bahan yang telah digerus tadi kedalam tabung reaksi, tambahkan 10 tetes larutan asam sulfat 2N, lalu dikocok.
4.    Dipisahkan dan didekantasikan lapisan asam kedalam tiga tabung reaksi kecil dan masing-masing tabung ditambahkan dengan satu tetes pereaksi Meyer, Wagner, dan Dragendorf.
b)   Pemeriksaan Steroid dan Terpenoid
1.    Dimasukkan simplisia tumbuhan 5 gr kering yang telah dirajang halus kedalam erlenmeyer 250 ml. Lalu tambahkan dengan 25 ml etanol dan diaduk-aduk.
2.    Panaskan diatas penangas air selama 10 menit (jangan menggunakan api langsung), dan saring dalam keadaan panas.
3.    Diuapkan filtrat pelarutnya dengan rotary evaporator atau dengan menggunakan penangas air sehingga diperoleh ekstrak pekat etanol.
4.    Dititrasi ekstrak pekat etanol dengan sedikit eter dan beberapa tetes larutan eter ditempatkan dalam 2 lobang plat tetes dan biarkan kering.
5.    Ditambahkan 2-3 tetes anhidrida asam asetat, diaduk dengan hati-hati.
6.    Ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat dan amati perubahan warna yang terbentuk.
7.    Periksalah reaksi dengan menambahkan asam sulfat pekat pada lobang plat tetes yang satu lagi, amati warna yang terjadi. Kalau terbentuk warna yang sama sangat boleh jadi contoh tumbuhan yang diperiksa tidak mengandung terpenoida tapi senyawa lain yang bereaksi dengan asam sulfat pekat.
c)    Pemeriksaan Flavonoida
1.    Diekstrasksi 0,5 gr simplisia tumbuhan yang telah dihaluskan dengan 10 ml etanol panas selama 5 menit dalam tabung reaksi.
2.    Disaring hasil ekstrak dan filtratnya ditambahkan beberapa tetes HCl pekat, lalu ditambahkan lebih kurang 0,2 gr bubuk magnesium. Bila timbul warna merah tua, menandakan contoh mengandung flavonoid. Cara uji teknik shinoda (Mg+HCl).
3.    Cara lain pengujian flavonoid, dengan menambahkan ekstrak etanol diatas dengan 2 tetes NaOH 10% . adanya flavonoid ditandai dengan perubahan warna kuning-orange merah.
d)   Pemeriksaan Saponin
1.    Dimasukkan lebih kurang 0,5 gr bahan tumbuhan kedalam tabung reaksi, lalu tambahkan 10 ml air panas dan biarkan menjadi dingin kemudian dikocok selama 10 detik.
2.    Bila terbentuk busa yang stabil setinggi 1-10cm selama 10 menit tidak hilang saat penambahan 1 tetes asam klorida 2N pada perlakuan ini, berarti tes saponin adalah positif.
e)    Pemeriksaan Kuinon
Dipotong-potong halus simplisia tumbuhan, kemudian diekstraksi dengan eter. Jika warna contoh yang diuji masuk kedalam pelarut eter boleh jadi zat warna yang ada adalah kuinon.
f)    Pemeriksaan Kumarin
Ekstrak metanol atau ekstrak dari simplisia tumbuhan dapat dideteksi keberadaan kumarinnya dengan cara ekstrak etanol atau metanol dari contoh kromatografi lapis tipis, dengan menggunakan eluen etil asetat atau etil asetat : metanol (9:1) atau (8:2). Dibawah sinar ultraviolet gelombang panjang 360 nm kumarin biasanya akan berfloresensi biru dan kalau noda ini diberi uap ammonium akan terlihat noda yang berwarna kuning.



Adapun video yang terkait dalam praktikum kali ini yaitu :


PERMASALAHAN :     

1. Mengapa proses dekantasi terjadi pada saat pemeriksaan Alkaloida?

2. Dalam praktikum ini yaitu Skrining Fitokimia Bahan Alam, kami meneliti senyawa-senyawa yang terkandung dalam tumbuhan. Menurut Anda, apakah simplisia tumbuhan dapat diganti dengan hewan?

3. Dalam percobaan ini, 3 reagen digunakan untuk menguji alkaloid. Bisakah kita hanya menggunakan satu reagen?

Komentar

  1. Nadiya Qotrunnada Tohiri A1C118073 ingin mencoba menjawab permasalahan ke 1

    pada melakukan pemeriksaan atau identifikasi alkaloid terjadi proses dekantasi karena karena dekantasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memisahkan campuran larutan dan padatan yang paling sederhana, sehingga mudah untuk dilakukan.

    BalasHapus
  2. Baiklah saya Risa Novalina G ( A1C118070) akan mencoba menjawab pertanyaan no 3 , menurut saya itu bisa hanya menggunakan 1 Reagen karena kita ketahui fungsi ke 3 Reagen tersebut adalah untuk menguji apakah isolat tersebut mengandung alkaloid atau tidak. Salah satunya adalah Reagen dragendorff jika ditambahkan Reagen tersebut jika endapan menjadi merah bata berarti positif adanya alkaloid. Jadi menurut saya bisa digunakan 1 Reagen saja. Maaf bila ada kekeliruan dalam jawaban saya
    Terimakasih

    BalasHapus
  3. saya susilawati (091) akan menjawab permasalahan no 2. menurut saya sampel tersebut tidak bisa di gantikan dengan hewan karena golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang diteliti.

    BalasHapus

Posting Komentar