LAPORAN PERCOBAAN 9 PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM (FLAVONOID)
VII. DATA PENGAMATAN
|
NO. |
PERLAKUAN |
TUJUAN |
HASIL |
|
1. |
Sampel bubuk kunyit dibungkus dikertas
saring dan diikat dengan benang |
Untuk dilakukan nya ekstraksi |
Kertas saring yang diikat telah berisi
bubuk kunyit |
|
2. |
Dirangkai alat sokletasi dan diletakkan
labu bulat diatas mantel, tabung soklet diatas labu bulat. Kemudian,
ditambahkan batu didih, dimasukkan kunyit yang telah dibungkus tadi dan
pasang termometer |
Untuk dilakukannya proses ekstraksi
dengan metode sokletasi. Ditambahkan batu didih untuk meratakan proses
pemanasan |
Alat terpasang dengan baik. |
|
3. |
Ditambahkan pelarut etanol, dipasang
kondensor, selang masuk-keluar air lalu hidupkan keran air. Kemudian,
dihidupkan heating mantel |
Etanol digunakan sebagai pelarut |
Beberapa menit pertama dihasilkan
warna larutan yaitu kuning muda, setelah beberapa menit berikutnya warna
larutan menjadi kuning ke orange an. |
|
4. |
Dilakukan ekstraksi selama 2 jam |
Untuk didapatkan hasil ekstrak
kurkumin yang murni |
Dihasilkan larutan warna kuning muda |
|
5. |
Setelah itu , pindahkan ekstrak
tersebut ke cawan porselin dan ditambahkan Pb asetat berlebih kemudian
ditambahkan asam sulfat encer |
Ditambahkan Pb asetat sebagai uji
kualitatif adanya gugus aromatik pada ekstrak. |
Endapan bagian bawah ekstrak berubah
berwarna merah |
|
6. |
Dilakukan evaporasi |
Untuk dilakukan pengeringan pada
ekstrak |
Ekstrak menjadi kering dan dibagian
pinggir cawan porselin terdapat ekstrak yang menempel |
|
7. |
Diteteskan dietil eter dan dibiarkan
kering pada suhu ruang. |
Diteteskan dietil eter untuk
melarutkan ekstrak yang menempel dicawan porselin dan dikeringkan untuk
memperoleh endapan kurkumin. |
Didapatkan endapan kurkumin berwarna
merah kecoklatan |
VIII. PEMBAHASAN
Kemudian pada tahap selanjutnya yaitu ditambahkan etanol, dimana etanol digunakan sebagai pelarut . Lalu, dipasang kondensor, selang masuk-keluar air lalu hidupkan keran air. Kemudian, dihidupkan heating mantel. Hasilnya, beberapa menit pertama dihasilkan warna larutan yaitu kuning muda, setelah beberapa menit berikutnya warna larutan menjadi kuning ke orangean. Dalam percobaan ini dilakukan ekstraksi selama 2 jam. Dimana, proses ini dilakukan untuk didapatkan hasil ekstrak kurkumin yang murni. Hasilnya, didapatkan larutan warna kuning muda. Setelah itu , dipindahkan ekstrak tersebut ke cawan porselin dan ditambahkan Pb asetat berlebih kemudian ditambahkan asam sulfat encer. Dimana, ditambahkannya Pb asetat sebagai uji kualitatif adanya gugus aromatik pada ekstrak. Hasilnya, endapan bagian bawah ekstrak berubah berwarna merah. Kemudian, dilakukan evaporasi untuk dilakukan pengeringan pada ekstrak. Endapan menjadi kering dan dibagian pinggir cawan porselin terdapat endapan yang menempel. Kemudian, diteteskan dietil eter dan dibiarkan kering pada suhu ruang. Hasil akhirnya, didapatkan endapan kurkumin berwarna merah kecoklatan,
IX. PERTANYAAN PASCA
1.Pada percobaan ini, proses sokletasi menggunakan etanol sebagai pelarut. Apakah penggunaan pelarut ini dapat digantikan dengan pelarut lain?
2. Pada percobaan ini setelah didapatkan kurkumin dalam keadaan kering, mengapa harus dilarutkan kembali dengan dietil eter ?
3. Dalam proses sokletasi berapakah suhu yang baik agar kandungan kurkumin pada ekstrak tidak rusak ?
X. KESIMPULAN
1. Salah satu teknik isolasi senyawa alami flavonoid adalah dengan metode sokletasi, dimana prinsip metode sokletasi ini menggunakan pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan alami yang digunakan.
2. Senyawa flavonoid ini memiliki kerangka karbon yang terdiri dari dua gugus C6 yang merupakan cincin benzen tersubstitusi yang dihubungkan oleh rantai alifatik tiga karbon. Senyawa flavonoid alami termasuk senyawa aromatik yang berperan sebagai antioksidan. Dimana, antioksidan tersebut dapat menghambat proses oksidasi yang terjadi akibat reaksi radikal bebas yang tidak reaktif.
3. Senyawa flavonoid cukup larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol dan aseton. Flavonoid juga memiliki sifat yang mirip dengan fenol, yaitu sedikit asam dan larut dalam basa.
XI. DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bustanul dan Ibrahim,
Sanusi.2018.Struktur, Bioaktivitas dan Antioksidan
Flavonoid. Jurnal Zarah Volume 6 Nomor 1. Padang : Universitas Andalas.
Djamil,Raidan dan Zaidan,
Sarah.2017. Isolasi Senyawa Flavonoid dari Ekstrak Metanol
Daun Katuk (Sauropus
androgynus (L..) Merr),Euphorbiaceae.Jurnal
Ilmu Kefarmasian
Indonesia Volume 14 Nomor 1. Jakarta : Universitas Pancasila.
Heliawati, L. 2018. Kimia Organik Bahan Alam. Bogor : UNPAK Press.
Rahayu, d. (2014). Pemanfaatan Tumbuhan obat Secara Tradisional Oleh Masyarakat lokal dipulau Wawoni. Jurnal Biodiversitas, Vol. 6 No.7.
Tim Kimia Organik II.2020.Penuntuk
Praktikum Kimia Organik II. Jambi : Universitas Jambi.
Baiklah saya Risa Novalina G (A1C118070) akan menjawab permasalahan no 1.
BalasHapusPenggunaan pelarut bisa digantikan contoh nya dengan menggunakan air sebagai pelarut.
Maaf jika jawaban saya ada kekeliruan. Terimakasih
Saya Bella Veronica (095) akan mencoba menjawab no.1 ya bisa saja digantikan asalkan sifat yang dimiliki pelarut tersebut masih sama dan tidak merusak larutan yang akan di ekstraksi
BalasHapusSaya Jony Erwin (098) akan menjawab permasalahan no 3 yaitu Jadi suhu yang baik digunakan yaitu 50 Celcius, karena suhu ini dapat optimal dalam menguapkan pelarut tanpa merusak senyawa flavonoid dalam simplisia.
BalasHapus